Kupas Tuntas Minat Baca Masyarakat Indonesia – Bagian 2


Tulisan ini merupakan opini pribadi saya yang didukung oleh data-data yang saya peroleh dari berbagai sumber. Sumber informasi akan saya cantumkan di dalam tulisan ini.

--

Setelah dibanjiri tsunami fakta perihal rendahnya minat baca di Indonesia, sekarang saya ingin lebih menyoroti apa sih manfaat membaca dan mengapa membaca (terutama buku) menjadi sebuah hal penting.

Saya sendiri, awalnya merasa aneh. Hobi membaca saya bukan berangkat dari kesadaran akan pentingnya membaca. Tetapi berangkat dari kebiasaan membaca komik, majalah dan novel sejak kecil, karena mengikuti hobi kakak perempuan saya. Ya, sesimpel itu saja. 

Hobi membaca buku sempat hilang dari saya di saat kuliah. Dan baru kembali, saat pandemi dating. Karena saat itu saya juga sempat berstatus pengangguran. Jadi ya mau tidak mau harus mencari hobi, untuk mengisi hari, selain kirim lamaran kerja kesana kemari tentunya.

Saya sangat yakin, bahwa teman-teman yang hobi membaca buku di ruang publik, sering mendapat tatapan aneh dari orang sekitar, kan? Karena saya sangat sering merasakan itu. Bahkan oleh orang-orang terdekat.

Bagi saya, membaca sama sekali tidak membuang waktu. Meskipun yang dibaca adalah buku fiksi, alias novel, yang kerap mendapat tuduhan “tidak ada manfaatnya” oleh sebagian orang. 

Apakah iya, membaca novel tidak memiliki manfaat?

Mari kita mengintip sebuah jurnal yang ditulis oleh Redyanto Noor yang berjudul “Minat, Motif, Tujuan, dan Manfaat Membaca Novel Teenlit Bagi Remaja Jakarta: Studi Resepsi Sastra” (bisa diakses melalui link berikut ini), ternyata membaca novel teenlit itu bukan hanya sekedar memberi hiburan kok untuk para remaja. Tapi juga mengajarkan “sesuatu”, secara langsung atau tidak langsung, berfungsi mengembangkan kepribadian mereka.

Dalam jurnal tersebut, juga dituliskan bahwa membaca novel juga memiliki keuntungan pengembangan tradisi membaca, penambah wawasan dan kepekaan terhadap lingkungan pergaulan dan kemasyarakatan.

Apalagi kita tahu betul, kalua novel-novel jaman sekarang itu semakin kompleks. Jujur, saya sangat mengapresiasi banyak penulis novel, yang membawa isu-isu penting dalam karya mereka. Bahkan novel yang diangkat dari AU maupun wattpad, juga bukan sekedar hiburan cinta-cintaan semata kok.

Saya sendiri tumbuh dewasa di masa novel karya Luna Torashyngu dan Ilana Tan menjadi penguasa. Lalu mulai bangku SMK, saya baru mulai membaca beberapa karya Tere Liye dan Pidi Baiq. Apakah novel tersebut membawa dampak buruk untuk saya? Tidak. 

Justru sebaliknya, berawal dari novel mereka, akhirnya saya menjadi gemar membaca. Bukan lagi membaca karena kakak saya. Tapi membaca karena itu adalah kegiatan yang menurut saya paling bermanfaat, daripada hanya sekedar diam saja.

Read what you love, until you love to read.

Saya rasa, memang itu yang akhirnya saya lakukan. Dan itu membutuhkan waktu yang sangat panjang memang untuk saya pribadi.

 Sekarang mari kita membahas jurnal lain, “Pentingnya Membaca Dan Menggunakan Perpustakaan Dalam Mengubah Kehdupan Manusia”, yang ditulis Tawakkal Saleh (bisa kalian akses melalui link ini). Dalam jurnal ini, peneliti mengungkap fakta yang menyedihkan juga, Masyarakat kita memang  belum sampai  pada  masyarakat  infomasi.  Hal ini menyebabkan informasi itu belum menjadi kebutuhan. Banyak orang yang menganggap bahwa tanpa membaca informasi  itu  bisa diperoleh secara gratis dengan hanya menanyakan kepada orang lain.

Artinya, masih banyak orang yang menjadikan orang lain sebagai sumber keilmuan mereka. Lalu bagaimana, kalua ternyata orang yang dipercaya sebagai sumber informasi, menyalahgunakan kepercayaan orang-orang?

Menggiring opini, menyebarkan berita palsu. Ya, seperti yang kita lihat di masa-masa pemilu ini. Betapa banyaknya informasi yang bertebaran di sosial media, sebagiannya nyata, sudah tertulis di banyak buku, kalau saja kita mau mencarinya. Sebagian lagi hoax, fitnah, sebuah usaha menjatuhkan pasangan tertentu.

Itu hanya contoh ya, contoh nyata, contoh yang sangat dekat dengan kita.

Tanpa bermaksud kampanye, toh tulisan ini akan saya naikkan setelah pemilu usai, berapa banyak sih masyarakat yang mengetahui web fitnahlagi.com? Salut sekali dengan kinerja tim kampanye paslon 01 ini, membuat web yang menjawab banyak pertanyaan saya. 

Semudah itu untuk mengakses sebuah informasi, sayangnya rasa malas membaca, membuat video-video potongan di sosial media lebih diminati daripada web semacam itu. 

Dalam jurnal ini juga dijabarkan tentang bagaimana perpustakaan harusnya memegang peran penting dalam peningkatan minat baca. Tapi, kali ini saya belum mau membahas hal tersebut. Masih banyak data yang saya telusuri sebelum bisa menulis hal ini.

Baiklah, saya rasa cukup ini dahulu ya. Sampai jumpa lagi! Saya akan segera kembali.


Komentar