Kupas Tuntas Minat Baca Masyarakat Indonesia -Bagian 1


Sebelumnya, aku mau disclaimer ya, bahwa tulisan ini semata adalah opiniku. Apa yang terbaca dari kacamataku. Sumber-sumber informasi akan aku cantumkan di akhir tulisan ya. 

Indonesia dan minat baca, seakan menjadi 2 hal yang enggan berjalan berdampingan. Tidak perlu mencari data terlalu muluk-muluk. Bahkan berbagai media lokal pun sudah dengan terang-terangan menulis, betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. 

Seakan-akan membaca bukanlah hal yang penting, Indonesia terus konsisten berada di urutan bawah dalam hal minat baca. Urutan kedua dari bawah, berdasarkan hasil riset yang dilakukan tahun 2016 oleh Central Connecticut State University



Dan di tahun 2023, indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%, atau bisa diartikan dari 1000 orang, hanya ada 1 orang yang rajin membaca. Berarti dari kurang lebih 278juta jiwa masyarakat Indonesia, hanya ada 278ribu orang yang rajin membaca. Betul kan ya hitungan saya? 

Angka yang sangat jauh, jika kita bandingkan dengan jumlah ponsel aktif di Indonesia, yang berdasarkan data dari survei terbaru google, Think Tech, Rise of Foldables: The Next Big Thing in Smartphone, menyebutkan ada kurang lebih 354juta perangkat aktif di Indonesia. 

Belum lagi jika kita bandingkan dengan jumlah tweet, hanya dari kota Jakarta saja, yang diklaim sebagai salah satu kota paling cerewet. Warga ibukota diklaim bisa membuat kurang lebih 10juta tweet dalam 1 hari saja. Wow, angka yang sangat fantastis ya.
Saya sendiri sering bertanya-tanya, apa sih yang menjadikan minat baca di Indonesia rendah sekali? Sebagai WNI yang tinggal di sebuah kabupaten kecil di tengah pulau Jawa, saya sempat berpikir bahwa keterbatasan akses terhadap buku menjadi faktor yang paling besar. 

Mari kita bongkar fakta menyedihkan di kota saya ini. Kami tidak memiliki toko buku. Jangankan toko buku sekelas gramedia, toko buku lokal saja tidak lagi ada. Perpustakaan daerah, yang bisa menghabiskan APBD sampai miliaran rupiah untuk renovasi saja, tidak memiliki banyak pilihan buku yang “menarik”. 

Tapi, kondisi tersebut tentu tidak terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Jogja. 

Saat saya masih kuliah di Semarang, ada lebih dari 1 toko buku gramedia, perpustakaan kampus pun menawarkan banyak jenis bacaan, belum lagi perpustakaan yang dikelola pemerintah Kota Semarang, dan juga perguruang tinggi lainnya. Tapi apakah itu berhasil menjadikan minat baca di kota Semarang baik? Saya rasa tidak. 

Dengan berat hati, saya harus mencoret alasan keterbatasan akses terhadap buku sebagai penyebab rendahnya minat baca. 

Lalu saya coba menelusuri lebih dalam, apakah karena harga buku bisa dibilang cukup mahal? Ini sempat saya rasakan saat bangku kuliah. Untuk membeli 1 novel saja, saya harus menyisihkan uang makan selama kurang lebih 1 bulan. 

Tapi, seiring berjalannya waktu saya menyadari, bahkan masih banyak buku-buku dengan harga yang murah. Dibawah 100ribu bahkan dibawah 50ribu. Tentu saja original dan membahas topik yang menarik. 
Lagi-lagi alasan itu tidak seharusnya menjadi penyebab rendahnya minat baca. 

Belum lagi kehadiran format e-book. Keberadaan perpusnas digital, atau aplikasi gramedia digital. Akses buku sudah semudah akses sosial media. Jika harus berlangganan pun, tidak jauh dari harga 1 gelas es kopi susu di coffee shop terkenal.

Jujur, semakin ditelusuri saya malah semakin bingung mencari alasan rendahnya minat baca. Saya belum menemukan alasan yang tepat dan masuk akal. 

Akses yang mudah, harga pun murah. Pilihan bacaan pun sangat beragam. Ada buku lokal, dengan berbagai genre yang ditulis oleh berbagai macam kalangan. Ada juga buku terjemah yang semakin hari semakin beragam. Dan ada juga buku-buku impor yang memang agak pricey. Dari genre fiksi sampai non fiksi. Dari membahas hal simpel sampai yang kompleks. Ah rasanya, di masa ini, mau mencari topik apapun pasti ada.

Sepertinya, masih panjang perjalanan saya untuk menyelami permasalahan ini. Jangan kemana-mana, kembali lagi kesini ya, karena saya akan terus mengupdate perjalanan ini. Semoga, sebagai pembaca buku, saya bisa memberi sedikit kontribusi untuk minat baca masyarakat Indonesia. 
 -To be continue- 
 Dinda, 9 februari 2024. 

 Sumber informasi: 
 https://tekno.kompas.com/read/2023/10/19/16450037/ada-354-juta-ponsel-aktif-di-indonesia-terbanyak-nomor-empat-dunia
https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media
http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html
https://www.kompasiana.com/fopinurfadilah0487/653e3ea1ee794a1812268e32/tahun-2023-minat-baca-di-indonesia-semakin-rendah

Komentar